Rabu, Mei 11, 2011

curhatku

curhatku

July 29th, 2010 by ridhosinto

mama,

kemarin aku mengenal gadis

dia istimewa di mata dan hatiku

tapi mama,

kemarin aku membuatnya menangis

sedihku tlah membuatnya bersedih juga

kini kupikir dia sembunyi menenangkan diri

mama,

aku tahu ini semua salahku

tak bisakah kugantikan sedihnya Ma?

seperti saat Muhammad meminta menanggung separuh sakit mati umatnya

mama,

kemarin aku bilang padanya aku tak pantas untuk dia

saat dia menginginkanku, aku membentaknya

aku membuatnya menangis malam itu

seperti saat air mata mama menetes saat kutanya “apa artiku” dulu

air mata yang sama saat engkau menangis lagi saat kukeluhkan hidangan di meja makan

engkau, yang selalu kusebut dalam doaku telah menangis karenaku

kini ada engkau lain lagi yang meneteskan airmata karenaku

mama,

kadang aku berharap seandainya saja seisi dunia ini pria

mungkin lebih mudah menghadapi perkelahian fisik

semua diselesaikan secara emosi

mama,

aku tau begitu banyak air matamu untukku

bahkan sejak aku belum terlahir

sebulir pun aku tak bisa membayarnya

bahkan hingga akhir hayatku nanti

mama,

setiap kali mengenal wanita, aku melihat sosokmu

aku melihat sedih yang kutinggalkan untukmu

dan aku tak mau lagi melihat itu pada sosokmu

maka aku memilih pergi dari dia

salahkah aku Ma?

mama,

sungguh dia wanita hebat kebanggan kedua orang tuanya

teladan bagi adik-adiknya, pantaskah aku?

tapi mama,

aku ceritakan kini, dia sudah pergi Ma

haruskah kucari dia? aku tak sanggup melukai lagi

mama,

saat ku kembali ke rumah nanti, maafkan aku ya

aku merasa malu menjadi anakmu

pendidikanmu spertinya tak pernah kuamalkan

“jangan sakiti wanita” seperti kau bilang dulu

aku ingat kata-kata itu saat malam kau menangis

sungguh masa-masa yang berat saat itu bagi kita

mama, aku ga ingin membagi cintaku pada wanita lain

aku ingin mencintaimu setulus perhatianmu

masih ingat lagu itu? Kasih Ibu

mama,

betapa sulit bagi pria tuk memahami wanita

mama,

apa yang harus kulakukan kini?

“berhentilah menangis”

terimakasih mama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar