bukan, aku hanya tulang belulang koq
aku hanyalah makanan cacing tanah
janganlah kau tulis nama itu di nisanku nanti
aku tak sangup menanggung jawabnya
/
bahkan rahangku telah kaku
ucapanku tak lagi bernada
dan tak bisa lagi kubalas panggilanmu
adik cantikku
/
maafkan, mungkin terlambat bagiku mengatakan itu
maafkan, mungkin bagimu itu tak perlu
maafkan, aku tak mengatakan sedari dulu
cantikmu, pancaran kecantikan hatimu
/
yang ada hanyalah sesal kemudian
mata tak lagi memandang pancaran hati
dan terjemah tak lagi berarti
karena aku telah mati, kini.
//
mardaris, di balik sunyi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar