kunci
August 14th, 2010 by ridhosintoia tergolek tak berdaya di atas meja
menyaksikan perbincangan dua manusia
hingga akhirnya, seiring berjalannya masa
…
AKU BENCI MEMIKIRKAN SESUATU DAN PIKIRAN ITU TERUS DI KEPALAKU TANPA PERNAH DISELESAIKAN
…
AKU BINGUNG HARUS GIMANA LAGI NGADEPIN ORANG SEKERAS DAN SEBEBAL ITU
…
NGAPAIN AKU CARE ORANG YANG SAMA DIRINYA SENDIRI AJA GAK CARE
…
I HATE HIM
…
Perhaps, I should never wanting you.
kemudian kunci itu pun memainkan perannya.
mengunci rapat hatinya dengan segel sebaris air mata.
mardaris, mencoba bertanya.
ps: jadilah pemimpin yang adil, jika tidak bisa adil ga usahlah jadi pemimpin. Tuhanmu mempunyai hak atasmu, Ibumu mempunyai hak atasmu, Ayahmu mempunyai hak atasmu, saudari-saudarimu mempunyai hak atasmu, dirimu mempunyai hak atasmu, istri dan anak-anakmu mempunyai hak atasmu. berlakulah adil atau biarkan dia pergi, karena keadilan baginya ada di selainmu.
ps: …maka bertakwalah kepada Allah berkenaan dengan putri-putri kaum muslim dan berobatlah. Sebab, tidaklah Allah menjadikan penyakit melainkan Dia membuat obatnya. Mudah-mudahan Allah merubah keadaanmu setelah itu. Amin. (hal. 198)
ps: terimakasih sudah membaca.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar