Minggu, Mei 15, 2011

being Idol

being Idol

Wednesday, March 28th, 2007

Banyak orang yang menginginkan dan memimpikan
untuk menjadi terkenal. Memang, fenomena ini sesuai dengan budaya pop yang
tengah berkuasa di dunia saat ini. Inti dari budaya ini kalau boleh saya
katakan adalah menomorsatukan idola atau figur. Peran idola atau figur yang
dalam tulisan ini kita sebut saja Idol,
benar-benar mampu mempengaruhi pikiran, tindakan dan tingkah laku banyak orang.
Idol dipuja dan dijadikan simbol
kesuksesan, trend setter, diberi
fasilitas melimpah, bahkan kalau boleh saya katakan Idol disembah oleh penggemarnya seperti layaknya berhala. Tentu saja
konsekuensi logisnya Idol seakan menjadi
gula dalam kerajaan semut, dicari dan diinginkan oleh semua pihak.

Mari kita telanjangi Idol dengan berbagai kacamata!

Pandangan normal, wajar saja ketika seseorang
ingin diperhatikan, dipuja dan dielu-elukan layaknya seorang jenderal perang
yang pulang dari medan pertempuran dengan membawa kemenangan. Sebagai seorang
jenderal perang, tentu saja pemujaan yang dia terima diperoleh dengan
pengorbanan besar. Sebagai jenderal perang, dia tahu bahwa tujuan utamanya
adalah bertempur membela negara –atau mungkin pimpinannya- walaupun kadang dia
tahu dia berada di pihak yang salah. Who knows? Pemujaan dan elu-eluan yang dia
terima dianggap sebagai pelengkap saja, karena kalau dia kalah tentunya dia
tidak akan dipuja seperti itu, atau bahkan mungkin malah cacian dan makian yang
dia terima.

Kacamata positif akan memandang Idol sebagai sebuah lahan subur untuk
mendapatkan keuntungan (uang), sehingga banyak cara dilakukan untuk dapat
menjadi Idol. Mengikuti audisi
program televisi ternama, berpenampilan ”aneh”, berpakaian minim layaknya dunia
akan kekal dengan menunjukkan kemolekan tubuh (astaga… apakah ini tanda dunia
segera kiamat?), bahkan hingga menggadaikan tubuh –maaf, bahasa gaulnya mungkin
melacurkan diri- dan masih banyak hal lain yang mungkin Anda lebih tahu
daripada saya. ;) Orang-orang ini berfikir (semoga tidak memakai dengkul)
ketenaran dan uang yang diperoleh akan kekal. Kalau tidak mau dibilang begitu
ya mungkin dengan menjadi Idol
rezeki mereka akan mengalir lancar. Githu!! Banyak tawaran pentas, menghadiri
peresmian, menjadi tamu kehormatan, bintang iklan dan (lagi-lagi Anda saya
minta untuk melengkapinya).

Maaf kacamata negatif sold out, jadi saya tidak bisa melihat Idoldengan kacamata ini. Entschuldigen Sie! (walah sok banget pake
bahasa Jerman, lha wong sinaue ra mudeng2)

Idol bisa berkembang
pesat karena peran media yang saat ini semakin merajalela, porno (vivid) dan menjangkau semua sudut kota,
desa bahkan puncak gunung sekalipun. Tentunya ucapan terimakasih patut kita
sampaikan pada orang-orang yang telah menciptakan teknologi komunikasi hingga
secanggih saat ini. Benar-benar luar biasa pengaruh dari hadirnya media di
tengah kehidupan kita saat ini. Ibarat udara yang tidak dapat kita tinggalkan
selama kita masih hidup.

Sebelum saya menjadi Idol yang Anda puja (semoga
saja tidak), mari kita baca dan renungkan hal ini. Pantaskah kita menjadi Idol
yang segala tingkah laku kita akan diikuti oleh ”penggemar” kita? Ketika kita
bertindak salah dan dosa, diikuti oleh penggemar. Kita berpakaian tanpa
pakaian, ditiru penggemar kita. Berkata dusta, dibela oleh penggemar. Kembali
lagi, pantaskah? Pertanyaan ini saya ajukan karena saat ini perbuatan baik terkadang
malah kadang terlihat aneh dan pelakunya dianggap muna’ (munafik,red).

Siapkah kita menjadi Idol dengan segala
konsekuensi yang kita pikul? Menjadi seorang Akademia Fantasi, Indonesian Idol,
Da’i cilik, dan (lagi-lagi saya harus meminta Anda untuk melengkapi daftar
panjang ini) dibutuhkan pengorbanan yang besar dari segi harta, kesempatan,
tenaga, pikiran dan lainnya. Beruntung kalau pada akhirnya kita tahu tujuan
akhir program itu. Menjadikan kita miskin, karena uang tersedot untuk sms.
Menjadi artis instan. Atau mempertebal kantong-kantong konglomerat pemilik TV,
pemasang iklan, provider seluler serta kroni-kroninya?

Mungkin bisa benar kalau saya katakan bahwa semua
hal di atas tidak dapat lepas dari peran media dan budaya pop. Begitu ampuhya
media, kalau Anda sadar yang menyebabkan setiap orang ingin dikenal –menjadi Idol. Media bisa merubah persepsi
seseorang.
Siapa
menguasai media, dia menguasai dunia. Harapan saya kita semua tidak terbuai
oleh penguasa media dunia yang sewaktu-waktu bisa merubah persepsi kita tentang
segala hal, bahkan tidak mungkin budaya, jati diri dan keyakinan kita akan
kebenaran (Allah).

Semoga sedikit bacaan ini bisa menjadi buah
pikiran Anda sekalian yang akan mengusik tidur.

Dengan tjinta,

March Aries

Tidak ada komentar:

Posting Komentar