Jumat, April 29, 2011

perahu bercadik

Aku adalah perahu bercadik dengan luka menganga

Bagaimana aku merasakan perihnya hidup di atas lautan
Walau aku bisa sejenak di daratan
Tetapi aku perahu bercadik yang hidup di lautan.

Aku perahu bercadik dalam sebuah perjalanan
Perjalanan dengan tujuan, sebuah harapan
Kau bisa ikut denganku, berlayar merasakan gempuran ombak kecil
Ombak besar pun akan terasa sangat, bersamaku
Kau bisa menambal tiap lukaku agar kita tak tenggelam
Agar semangat menjaga tujuan tetap terjaga
Agar kita bisa saling melengkapi
Kau menjaga arah, dan aku menerjang tiap gelombang.
Atau kau bisa ambil saran ayahmu
Menyeberangi lautan luas dengan kapal pesiar
Yang menawarkan keindahan dunia dalam sepanjang waktu perjalanan
Tak bergeming oleh riak kecil ombak
Tak kan pernah merasa limbung oleh ombak besar
Dan yang kau nikmati hanyalah keindahan.
Atau kau bisa memilih bersamaku
Merasakan setiap kejadian penuh perjuangan
Yang apabila tujuan kita adalah sebuah pulau surga
Perahu cadik akan langsung menggapainya
Aku tak dapat menawarkan keindahan kapal pesiar
Aku hanya bisa membawamu lebih mendekat ke pulau surga
Tanpa perlu dermaga, tanpa perlu perantara perahu lainnya
Karena aku dapat segera berlabuh di pantainya
Karena kau dapat membawaku ke tepiannya
Dan mungkin memberi sedikit tambalan untuk menutup luka yang selalu tersentuh lautan, perih
Agar perahu cadik ini dapat semakin perkasa ketika membawa muatan lagi nantinya, sebuah keluarga.
Mardaris, dalam sebuah perjalanan.

*terimakasih pada suku Bugis, daerah tujuanku yg telah memberi hikmah bagiku selepas shalat malam. Perahu cadikmu membuatmu tersohor sebagai pelaut handal. Bukan karena terknologi terkini. Karena kalianlah, pelaut sejati, berteman dengan alam dan peka pada tanda2nya.
perahu bercadik Powered by Telkomsel BlackBerry®

hari ketiga

hari ketiga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar