saat mulai bisa melihat, berfikir dan mengenal dunia. bagaimana bertindak?
entah dimulainya kapan, menemani dan berlaga menjaga pahlawanku dengan tubuh yang kecil pergi ke kota, tersamar oleh tujuan "berburu roti enak". masih belum terpahami tujuan awal dia mengajakku waktu itu. takut meninggalkanku di rumah bukan alasan yang tepat menurutku, mencoba mendapat simpati dari pedagang dan pekerja angkutan (sopir dan kernet) karena membawa anak kecil juga bukan alasan yang bisa kuterima begitu saja saat itu, mengajarkanku untuk menjadi seorang pedagang yang harus tau dimana membeli barang kulakan, lebih bisa diterima akal bodohku. apapun alasannya saat itu, akhirnya membawaku berfikir bahwa inilah rasa dari "roti enak"-ku selama ini. bahwa roti itu tidak datang tiba-tiba di depan mulutku.
masih kuingat saat itu, aku masih duduk di bangku kelas 5SD. saat pertamaku menantang dunia. di balik kerepotan, rasa lelah, kekhawatiran yang meliputi perasaan pahlawanku, dia merelakanku pergi ke kota seorang diri. misi: yang jelas bukan berburu "roti enak", hehehe... diawali dengan wejangan, petunjuk yang jelas dan detil, akhirnya aku mendapatkan kepercayaanku yang pertama. bukan main-main, kepercayaan itu datang dari pahlawanku!
jarak sekitar 10km aku tempuh dengan colt (begitu kami menyebutnya waktu itu), dengan ongkos murah meriah karena masuk kategori anak-anak, perjalanan itu penuh dengan segudang perasaan, beraduk, bercampur, dan berputar-putar. setelah sampai pada perhentianku di teteg itu (teteg = perlintasan kereta api), kulanjutkan langkah menelusuri kota itu. benar juga ternyata, bakul-bakul disana mengenaliku karena seringnya kudiajak pahlawanku kesana.
untuk anak kecil sepertiku, belanjaan sebanyak satu becak adalah sangat banyak, terlebih kelanjutan hidupku juga tergantung pada belanjaanku itu. aku lupa berapa uang yang kubawa saat itu, tapi percayalah itu adalah uang jumlah terbanyak pertama kali yang pernah kubawa. yang aku ingat dengan sungguh, dengan uang sebanyak itu aku membeli dua karung pupuk urea ukuran 50kg berikut belanjaan lainnya. tak akan kulupa saat karung kedua telah membuat becak itu terjungkit, kaget tapi membuatku tersenyum.
sesampainya di pelukan pahlawanku, dia bungkus pupuk itu dengan ukuran yang lebih kecil. dia tau bahwa sulit bagi petani di lingkunganku untuk bisa membeli pupuk dalam jumlah banyak, hanya bungkusan kecil-kecil itu yang akan mampu terbeli. misi pertamaku selesai, mendekati sempurna. saat aku belajar memahami tuk dipahami, aku dapatkan pemahaman dasar tentang sebuah kepercayaan. kepercayaan yang datang dari pahlawanku.
Kamis, Oktober 30, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
wah ternyata masa kecilmu sudah penuh dengan pemikiran bisnis ya..
BalasHapuskepercayaan adalah segalanya :D
BalasHapus