hubungan antara dua manusia, siapakah yang harus memahami?
di lingkunganku, wajar terjadi saat aku kecil dulu punya keinginan dan tidak terkabul. di luar pemahamanku saat itu, yang terpikir hanya "permintaaku ditolak!" aku tidak membayangkan beban keluargaku saat itu karena aku juga hanya bisa meminta dan merengek. hidup di desa dengan usaha pas-pasan, tidak mungkin membuatku bergelimang kemewahan. beberapa kejadian yang aku ingat, sampai kini, adalah ketika sarapan berlauk taburan gula pasir, taburan garam dan sedikit bawang goreng, sekali-kali juga pernah bubur nasi berlauk intip. sedikit kemewahan datang di mulutku saat pahlawanku datang kembali dari kota membawa oleh-oleh "roti enak" begitu aku menyebutnya sampai aku beranjak remaja. nama lain dari bakpia isi kacang hijau yang saat itu sulit lidahnku mengucapkan, lebih gampang kusebut roti enak. mungkin juga karena hanya itu makanan enak yang aku makan selama masa kecilku.
saat itu aku belum bisa memahami, betapa di balik roti enak itu, bahkan dibalik taburan garam yang murah meriah itu sekalipun, ada tangis, ada tetesan air mata, dan ada keringat yang mengalir deras dari pahlawanku. sebuah komitmen untuk kelangsunganku, harapannya kelak. semoga, amin.
Kamis, Oktober 30, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
hemmm hidup adalah perjuangan
BalasHapussalam tuk pahlawanmu teman...